Selasa, 09 Mei 2017

Kaicil Rade, Pangeran Besar Tidore Yang Kurang Dikenal



Kadato Kie. Keraton kesultanan Tidore di Sunyine Salaka (Taman Perak), Kampung Soasio. Foto: Sofyan Daud, 12 April 2017


Kaicil atau Kaicili, sebutan untuk putra Sultan atau pangeran pada kesultanan-kesultanan di Maluku; Tidore, Ternate, Bacan dan Jailolo.
Kaicil Rade, pangeran dari Tidore yang bijaksana dan teguh pendiriannya. Pernah menjadi Kapita Lau (menteri pertahanan, panglima perang) Kesultanan Tidore semasa kepemimpinan Sultan Amiruddin Iskandar Zulkarnnaen, adiknya sendiri.
Saat ayahanda mereka Sultan Al Mansyur mangkat 1526, tiga tahun kemudian, pada 1529, Amiruddin Iskandar Zulkarnaen terpilih dan dinobatkan sebagai sultan menggantikan mendiang ayahandanya.
Saat penobatannya usia Iskandar Zulkarnaen masih remaja sehingga kakaknya Kaicil Rade dipercayakan sebagai Mangkubumi atau Waliraja, mengendalikan kesultanan sampai sultan Iskandar dewasa dan efektif melaksanakan amanah kepemimpinannya.
Sebagai Waliraja, Kapita Lau sekaligus pangeran yang lebih tua, Rade memiliki kekuasaan hampir mutlak atas kesultanan ini. Jika dia menghendaki niscaya mudah baginya mengambil alih tahta, tetapi hal itu tak terlintas sedikitpun di benaknya. Rade merasa cukup dengan amanah yang dipercayakan kepadanya, sebagai Kapita lau dan Waliraja.
Bijaksana, tawadduh dan istiqomah adalah karakter kepribadian Kaicil Rade yang menjadikannya penuh ketahudirian dan kesadardirian. Dia tak merasa rendah mengabdi pada kesultanan yang dipimpin adiknya yang terpaut usia jauh di bawahnya.
Rade menghormati Iskandar Zulkarnaen sebagai sultan dan menghormati amanah kepemimpinan yang dipundaki adiknya, juga menghormati amanah yang dipercayakan padanya. Kedua-duanya ditempatkan sama tinggi dengan rasa hormatnya akan marwah negeri, martabat rakyat, serta martabat dan kehormatan dirinya sendiri.
Kaicil Rade, pribadi mulia dan pemimpin berreputasi tinggi. Sayangnya, lembaran sejarah nasional tak sempat mencatatnya secara pantas. Kalangan sejarawan daerah pun belum banyak yang tertarik meneliti dan menulisnya. Itulah mengapa nama dan kiprahnya jarang diketahui khalayak di Maluku Utara bahkan di Tidore, tanah asal sang kaicil sekalipun.

TRAKTAT SARAGOSA DAN KRISIS MALUKU
Periode kepemimpinan Iskandar Zulkarnaen, 1529-1547 bersama Rade yang setia menyokong dan mendampinginya, dimulai dalam tahun yang sama dengan perjanjian Saragosa 25 April 1529. Perjanjian antara Raja John III dari Portugis  dengan Raja Charles V dari Spanyol yang dimediasi oleh Vatikan untuk meratifikasi perjanjian Tordesillas, 7 Juni 1494. Perjanjian yang tentunya memengaruhi konstalasi global, karena Portugis dan Spanyol saat itu adalah dua negara adidaya.
Pasca perjanjian, Spanyol meninggalkan Tidore dan seluruh wilayah Maluku ke Pilipina dengan kompensasi 350.000 Ducats.
Sepeninggal Spanyol, Portugis yang sejak dekade sebelumnya telah memantapkan posisinya atas Ternate, menjadi semakin kuat. Sebagai satu-satunya kekuatan Eropa di pulau-pulau utama penghasil cengkeh dan pala sekaligus pusat-pusat kesultanan tersohor di Timur Nusantara, Portugis pun kian memantapkan dominasinya melalui pelbagai upaya subordinasi Ternate yang lantas memunculkan pelbagai ketegangan dan konflik.
Kawasan Maluku terdesak memasuki dekade krisis dan konflik akibat intrik dan peperangan yang dialakukan para Gubernur Portugis di Maluku yang berkedudukan di Gamlamo, ibukota Ternate, sejak periode gubernur Antonio De Brito, 1522-1525, Henriquez, 1525-1527, Jorge de Menezes, 1527-1530, Gonzalo Pereira, 1530-1532, Vincente De Fonceca, 1532-1534, dan memuncak pada periode Tristao De Ataide, 1534-1537.
Puncak krisis terjadi saat sultan Ternate, Bayan Sirullah alias Bayanulllah wafat 1522, dalam periode gubernur De Brito. Hidayat (Deyallo) dan Boheyat (Bochiat), dua putra Bayanullah yang masih belia dinobatkan sebagai sultan, berturut-turut Hidayat, 1522-1529 dan Boheyat, 1529-1532.
Dalam kurun ini,  Boki (ratu, permasiuri) Nukila, istri mendiang Bayanullah, yang adalah putri Al Mansyur, saudara kandung Kaicil Rade dan Iskandar Zulkarnaen, dipercayakan sebagai Mangkubumi atau Waliraja, mengendalikan kesultanan Ternate sampai putranya dewasa dan efektif mengemban amanah kepemimpinannya.
Dari 1522 sampai 1537, masa 15 tahun paling kelam dalam sejarah Ternate. Intrik Portugis menembus dinding istana. Kepentingan politik dagang dan misi penyiaran agama yang dianut Portugis bertemu ambisi segelintir elit kesultanan.
Sultan muda Hidayat dan Boheyat mangkat mengenaskan di tangan besi Portugis. Tabariji naik tahta 1532-1535, lalu dia bersama Boki Nukila dan Pattisarangi dipecundangi,  ditangkap dan diasingkan ke Goa, India.
Di lain sisi misi pengabaran injil di wilayah Halmahera, juga tak bebas konflik dan peperangan. Portugis mengeksploitasi misi suci itu untuk menggalang dukungan dan loyalitas komunitas-komunitas di sana yang telah berhasil dikristenkan. Tujuannya mendelegitimasi bahkan melawan kesultanan Ternate. Sikap itu dinilai sebagai kelicikan, sebab Sultan Ternate menghormati dan telah memberi izin misi suci tersebut.
Dari latar dan konstelasi politik regional demikian, Iskandar Zulkarnaen yang belia tampil sebagai sultan di Tidore, satu-satunya kesultanan yang menjadi tumpuan Maluku (Moloku Kie Raha) kurun itu, ketika kesultanan Ternate sebagai salah satu yang terkuat sedang dirudung krisis yang pelik.
Di situlah Waliraja sekaligus Kapita Lau, Kaicil Rade, menunjukkan kualifikasi kepemimpinannya. Dia tak hanya menentukan stabilitas kesultanan Tidore, tetapi juga menentukan eksisitensi seluruh wilayah Maluku, khususnya kelanggengan cita-cita bersama Moloku Kie Raha yang dicetuskan dalam Motir Staten Verbond, 1322.
Sejarah mencatat bagaimana Tidore di bawah kendali Kaicil Rade memberikan perlindungan kepada sultan Boheyat yang dimakzulkan dan kemudian diburu oleh Portugis.
Serangkaian peristiwa besar dan menentukan terjadi dalam periode Sultan Amiruddimn Iskandar Zulkarnaen bersama Kicil Rade sebagai Kapita Lau-nya.

Tampak belakang Kadato Kie, foto dari Benteng. Foto: Sofyan Daud, 10 Januari 2017


GUBERNUR GALVAO DAN KAICIL RADE
Dokumen tertulis tentang Rade yang memang sangat minim, sejauh yang diketahui, bersumber dari catatan Antonio Galvao, Gubernur Portugis Maluku di Ternate, 1537-1540. Catatan-catatan yang kemudian dibukukan dalam “Historia Das Mollucas”.
Dalam catatanya Galvao mengungkap kekagumannya pada Kaicil Rade yang cerdas, bijaksana dan santun. Adnan Amal dalam “Kepulauan rempah-rempah”, sembari merujuk “Historia Das Mollucas”,  menyebutkan, orang-orang Portugis memuji watak dan kepribadian Kaical Rade sebagai “seorang pria berwibawa dan berprilaku paling santun”.
Gubernur Galvao, memang diutus Portugis ke Ternate karena prestasinya. Tugas utamanya memulihkan krisis hubungan Portugis dengan kesultanan Ternate dan kesultanan Maluku lainnya yang telah mengakibatkan anjloknya perdagangan rempah Portugis.
Meskipun begitu, kedatangan Galvao ke Benteng Nuestra Senhora Del Rosario di Gamlamo disambut sikap mawas yang tinggi bahkan kekuatiran, jangan-jangan Galvao berperangai sama dengan gubernur sebelumnya, pemicu kekacauan, peperangan, pengasingan, penabur petaka.
Keempat sultan Maluku pun mengadakan pertemuan di Tidore membahas antisipasi kehadiran Galvao dan kemungkinan buruk ulahnya sebagaimana ulah pendahulunya Ataide.
Memahami situasi itu, Galvao sepertinya menerapkan ujaran, “jika ingin damai mulailah perang”, dia lalu mengkonsolidasi pasukan berkekuatan penuh menyerang  Tidore.
Dalam catatanya, Galvao menyebutkan peperangan 21 Desember 1536 itu meluluhlantahkan beberapa kampung di Tidore. Porugis bahkan berhasil mendarat di Pulau Tidore. Singkat cerita, Sultan Tidore mengirim kurir menyampaikan tawaran perundingan damai. Galvao menerimanya dengan catatan, Sultan harus mengirim seorang pejabat resmi, bukan seorang kurir.
Di suatu pagi cerah antara Desember 1536 atau Januari 1537, Galvao menyeberang dari Ternate ke Tidore bersama beberapa pengawalnya, langsung menuju ke lokasi pertemuan di Seli. Tiba di Seli, Galvao sudah ditunggu oleh Kaicil Rade dan beberapa pengawalnya.
Kepada Rade Galvao mengatakan, agar perundingan mereka lancar dia menawarkan seorang penerjemah, tetapi Kaicil Rade menolak sembari mengatakan dia dapat menggunakan bahasa Galvao dengan baik.
Galvao membuka percakapan basa-basi, bahwa dia tahu Kaicil Rade bijaksana dan beprilaku sangat santun, juga seorang panglima perang yang handal.
“Sir Kaicil Rade. Saya tahu bahwa Anda adalah seorang laki-laki bermartabat tinggi dan terhormat, dan sebagai tambahan bagi kemuliaan derajat Anda, Anda terkenal sebagai yang paling adil dan baik hati di negeri ini. Selama ini Anda menjadi komandan tertinggi melawan Portugis seperti terlihat oleh beragamnya tanda yang Anda kenakan dan oleh keberanian Anda yang luar biasa....”.
Demikian sederet pengakuan dibumbui pujian dari Galvao, sembari menyelipkan misi, layaknya misi kolonial untuk “memecah belah” kekuatan Tidore. Galvao mengatakan, dengan kapasitas dan kredibilitas Kaicil Rade, tak ada yang lebih pantas memimpin kesultanan Tidore kecuali dia dan Galvao atas nama Raja Portugis merestui itu.
Tetapi Kaicil Rade menolak tawaran atau lebih pantas disebut bujukan itu; “Tuan Gubernur, Saya menganggap pujian Anda dan pemerintahan yang Anda janjikan sebagai pujian. Tetapi, bagaimana Anda bisa berharap saya menerima tawaran yang bertolak belakang dengan kewajiban dan kehormatan Saya? Apa kata orang jika mendengar hal ini? Untuk apa saya yang datang untuk membuat kesepakatan antara anda dengan saudara Saya, meminta kepada Anda apa yang menjadi haknya? Dengan cara macam itu saya akan kehilangan semuanya, apa yang saya capai dalam waktu begitu lama, melalui keserakahan sesaat. Akan terkutuklah pemerintahan yang berdasarkan pada hilangnya apa yang telah dicapai dengan segala daya upaya, untuk dunia ini dan dunia mendatang. Saya telah mengikhlaskan diri saya dalam posisi seorang budak bagi saudara kandung saya dan saya tidak akan mengizinkan aib menimpa saya dan keturunan saya”.
Demikian Kaicil Rade dengan kebijaksanaan dan kebesaran jiwanya, teguh dalam pendirian dan istiqomah dalam amanah yang dipercayakan. 
Tidore, Maluku Utara dan Indonesia, barangkali mesti mengambil pelajaran dan inspirasi dari kisah ringkas kebijakasanaan Kaicil Rade ini.
Tidore pun mesti berterima kasih kepada Galvao, sebab berutang kebaikan padanya, yang sudi mencatat kesan dan peristiwa pertemuannya dengan Kaicil Rade. Catatan yang walapun sedikit, dapat menjadi setitik api bagi generasi kini dan nanti.

Sofyan Daud
Garasi Genta, Ternate, 2 Februari 2017.

Selasa, 28 Maret 2017

Indonesia menulis Tidore, Tidore untuk Indonesia



Pelangi di punggung Tidore. Foto Sofyan Daud, 2 September 2013

Rangkaian harijadi Tidore ke 909 tahun 2017 diawali dengan lomba menulis blog “Tidore Untuk Indonesia” yang diprakarsai komunitas Fola Barakati, dengan tim kecilnya Ngofa Tidore (Anak Tidore). 
Luar biasanya, di dalam Ngofa Tidore ini bergabung mereka yang tak bertalian darah atau sejarah secuilpun dengan Tidore, selain teranting semangat dan semacam perasaan jatuh cinta yang hampir tak terelakkan pada Tidore; sejarah, khasanah budaya dan karunia pesona alamnya. Mereka bukan partisipan melainkan personil inti yang terlibat mendesain konsep dan sebagainya.
Untuk pertama kalinya kegiatan pembuka harijadi Tidore diprakarsai oleh komunitas, bukan oleh institusi “pelat merah”. Ini seakan menandai munculnya kesadaran di kalangan elit Tidore bahwa upaya pelestarian tradisi dan pembangunan kepariwisataan akan efektif bila didukung peranserta masyarakat, terutama komunitas atau kelembagaan masyarakat yang terkait.
Gathering dan launching itu dihelat murah meriah, tidak di ballroom megah tetapi konsepnya dipersiapkan secara baik dan melibatkan pihak berkompiten, seakan rekomendasi tentang alternatif yang patut dipilih ketimbang kegiatan yang pernah dihelat tahun-tahun sebelumnya yang cenderung formalistis dan kurang memerhatikan target pun sasarannya.
Sejak hari itu, Minggu 12 Februari 2017, “Tidore untuk Indonesia” dan seruan Visit Tidore perlahan menarik perhatian blogger setelah ia menghiasi halaman beberapa media massa terlebih menjalari jejaring media sosial.
"Tidore Untuk Indonesia” pun seolah mengalami efek "pembelahan diri” berkembang menjadi dua subtema yang saling memperkuat; “Indonesia menulis Tidore” dan “Menulis Tidore Untuk Indonesia”.

Kawasan Pelabuhan Rum, di Utara Tidore menjelang malam. Foto Sofyan Daud, 16 Januari 2017

Tidore Untuk Indonesia
“Tidore untuk Indonesia” bukan sekadar tema. Ia visi dan tekad mengembalikan Tidore kedalam pusaran orbit Indonesia, setidaknya Tidore patut mendapatkan tempat yang pantas. Ia juga semacam interupsi agar elit dan warga negara Indonesia berkhikmad mempelajari peran kesejarahan Tidore nan heroik dan kontributif bagi eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Tak usahlah mematut jejak sejarahnya yang terlampau panjang. Cukuplah dari sejak para sultan dan bobato (pemanggku adat) menyemai dan memupuk nasionalisme, heroisme rakyat yang dipimpin para sultan melawan imperialisme, menjadi penyokong aktif dan utama yang ikut mengantarkan NKRI ke gerbang kemerdekaan dan ikut pula mempertahankan kemerdekaan itu, hingga andil strategisnya dalam perjuangan Trikora untuk mengembalikan Papua kedalam wilayah kedaulatan NKRI.
Amati pula dengan saksama luasan teretori kekuasaannya yang mencapai 1/3 dari luas NKRI sekarang, yang menunjukkan betapa luasnya hamparan kebudayaan dan pengaruh sosio-kultural dan politik kesultanan ini, satu dari dua imperium besar di nusantara timur yang eksis secara formal sampai pada saat Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Sudilah pula mendalami tata nilai dan praktik kearifan dalam tradisi tua kesultanan ini yang spirit dan modelnya barangkali dapat diadopsi dan ditransformasikan memperkuat sendi-sendi kehidupan berbangsa bernegara.
Berikut, liriklah tinggalan sejarah dan kepurbakalaan, pesona alamnya serta kekhahasan dan keunikannya yang banyak.
Menulis Tidore, memang mesti dimulai dengan membaca Tidore. Itu yang dicontohkan oleh 94 Blogger dari pelbagai wilayah di Indonesia. Mereka membaca, mempelajari untuk kemudian menuangkan, menginterpretasikan pemahamannya akan Tidore kedalam tulisan-tulisannya yang dalam, indah dan informatif.
Hasil bacaan yang cermat terkespresi sedemikian lugas dalam tulisan-tulisan yang jernih dan detil, seakan mereka telah lama mengenali tanah tuah ini, sejarahnya, budaya dan tradisi, kuliner, hingga panorama alamnya. 

Indonesia Menulis Tidore
94 blogger dari pelbagai wilayah sungguh membaca dan menulis "Tidore untuk Indonesia". Setidaknya itu sedikit mewakili keingintahuan masyarakat Indonesia pada Tidore. Sebenarnya ini pintu masuk yang dapat dilalui oleh elit Indonesia sekarang untuk membaca dan menulis Tidore, bagian integral dari wilayah NKRI.
Tujuan terpenting elit Indonesia sekarang membaca dan menulis Tidore dan daerah lainnya di timur Indonesia merupakan upaya menghapus kesedihan akibat minimnya pengetahuan warga Indonesia di wilayah tengah dan barat terhadap wilayah kepulauan di timur Indonesia, yang luas subur dan kaya. Wilayah yang di masa lalu adalah pusat peradaban nusantara timur dan kemudian perlahan terdesak ke pinggiran. 
Wilayah yang sebenarnya amat strategis tetapi hanya fasih diperbincangkan saat membahas geopolitik dan geostrategis nasional. Atau saat negosisasi investasi petambangan, kelapa sawit, perikanan atau investasi sektor lainnya yang alih-alih untuk rakyat melainkan hanya untuk tujuan fee para pemburu rente.
Wilayah yang tak hanya dirudung kesenjangan dari segi sosial ekonomi dan pembangunan, tetapi juga kesenjangan keterkenalan, akibat rendahnya respek dalam ruang wacana dan diskursus nasional, akibat minimnya keberpihakan perencanaan strategis nasional terhadap kawasan ini, dan semakin diperparah oleh ketidakseimbangan interaksi antarwilayah di Indonesia. 
Torang sini kadara (kami di wilayah timur) lebih tersedot atau disedot oleh Dorang situ kalao (mereka di wilayah barat, Jakarta, pusat), sebelum dan sesudah kebijakan otonomi dan desentralisasi sekalipun.
       “Halo, Li, saya baru tiba. Kamu sedang di Ternate kan? Saya akan sempatkan diri main ke rumahmu”.  Ali, sebut saja begitu, dia ditelepon sahabatnya yang antusias bertemu, dan ingin main ke rumahnya.
      “Iya saya, sedang di Ternate. Kamu sedang ada proyek di Ternate, kah? Ali balik bertanya kepada sahabatnya.
      “Tidak, saya baru saja tiba di Kupang. Tak jauh kan dari kampungmu kan?” Ali, terdiam, tersenyum, menggeleng-geleng, miris...

Itu kisah nyata dan menyedihkan. Bayangkan, Ternate yang lebih terkenal, lebih ramai dan maju karena pusat jasa dan perdagangan Maluku Utara, ternyata masih samar bahkan tak jelas posisinya di ingatan sebagian warga negara Indonesia. Apalagi Tidore, Bacan, Jailolo, dan lainnya?
Masih banyak lagi kisah dan pengalaman serupa atau yang lebih miris. Itulah kesedihan yang tersedih, yang menggambarkan seolah anak-anak yang kurang tahu apa saja yang penting yang terdapat di dalam rumahnya.
Ironi memang, dari sekolah dengan kurikulum yang sama, anak-anak Indonesia di wilayah timur relatif lebih mengenali pahlawan-pahlawan, pulau-pulau, kota-kota, sungai-sungai, gunung-gunung, situs-situs di wilayah tengah dan barat Indonesia, sebaliknya anak-anak Indonesia di wilayah tengah dan barat relatif minim informasi dan pengetahuannya tentang Tidore, Ternate, Bacan, Jailolo. Keempat kesultanan dan pusat peradaban tua di nusatara timur, yang wilayah kekuasaan dan pengaruhnya mencakup Maluku, Maluku Utara, Raja Ampat dan Papua, sepanjang pesisir Sulawesi sampai Selayar, Nusa Tenggara, ke kepulauan Pasifik sampai Mindanao. Bahkan terdapat sumber yang menyebutnya lebih tua dari kerajaan-kerajaan besar di Jawa.
Memang, rumah besar NKRI sangat besar dan luas. Isinya 17 ribuan pulau besar dan kecil, yang bernama dan belum sempat dikasih nama, dihubungkan oleh lautan dan selat; Karimata, Laut Jawa, laut Selawesi, Selat Makassar, Laut Maluku, Laut Banda, Laut dan Selat Halmahera, serta Laut Arafura.
Itulah mengapa pelajaran sejarah, budaya dan geografi Indonesia penting diajarkan secara baik di sekolah. Itulah mengapa untuk menjaga keutuhan dan kedaulatan NKRI, anak bangsa perlu diberi pelajaran dan pengetahuan bahkan doktrin tentang Wawasan Nusantara, artinya “Wawasan Laut-Pulau”, agar mengenali, memahami, merasa memiliki dengan bangga dan mencintai Indonesia yang luas, kaya, subur dan indah. Seperti sejak lama diingatkan pameo tua terkenal, “Tak kenal maka tak sayang”.
Generasi Tidore kini dan nanti berutang kebaikan dan kepedulian 94 blogger itu. Mereka yang membaca dan menulis “Tidore Untuk Indonesia”. Yang menujukkan cara mudah mengenal dan memperkenalkan khasanah Tidore, bagian integral dari NKRI.
Dengan tenggat waktu lomba yang singkat, tulisan-tulisan mereka membantu menjelaskan posisi Tidore di dalam wilayah NKRI, mengulas sejarahnya, mengangkat potensi dan khasanahnya yang amat bernilai bagi Indonesia, jika sekiranya dipedulikan secara pantas.
Terlebih lagi, mereka seakan mengingatkan elit Indonesia dan generasi Indonesia saat ini, bahwa wawasan nusantara dan kecerdasan teretorial-geografis ke-Indonesiaannya belum atau bahkan tidak pantas disebut baik jika tidak tahu persis seperti apa Pulau Tidore, satu di antara 1.474 di Maluku Utara, 747 pulau di antaranya bernama dan 727 pulau belum bernama.
Mengenal dan mengakui Tidore yang menyumbangkan 1/3 wilayah NKRI, meliputi di dalamnya sejarah, keragaman budaya, tradisi dan kearifan serta sumberdaya alam dan sumberdaya manusia, adalah salah satu cara efektif memperbaiki keluasan dan kedalaman wawasan keindonesiaan.
Mengenal dan mengakui Tidore secara pantas dan patut, tentu tidak merugikan sama sekali bangsa Indonesia dan kepentingan strategis nasional. Tidak juga merugikan warga negara Indonesia manapun. Sebaliknya semakin memperkokoh Indonesia sebagai negara berdaulat pada banyak seginya, juga semakin memperkuat pemahaman ke-Indonesiaan warganegaranya.
Kaitan itu, kemajuan teknologi dan sarana informasi dari televisi, media tulisan, online, hingga sosial media, sedikit banyak mulai melepas sekat-sekat, keterkucilan atau bahkan pengucilan yang ada.
Nah, Tidore sejak dulu telah ada “untuk Indonesia”, bahkan jauh sebelum Indonesia ada, sebelum Indonesia  memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Sekarang dan sampai nanti pun Tidore tetap ada untuk Indonesia.
Bagi Tidore, semua pulau di Indonesia penting, manusianya, sejarah dan khasanah budayanya, terutama penting kaitannya dengan keutuhan dan kedaulatan NKRI. 
Pertanyaan mendasarnya, seberapa pentingkah Tidore dan khasanahnya di mata elit Indonesia sekarang?
Pertanyaan ini tentu saja merepresentasi pertanyaan seluruh daerah dan pulau-pulau dalam wilayah Provinsi Maluku Utara bahkan lebih luas lagi. []

___________
Sofyan Daud
Ngofa Tidore, meminati sastra dan budaya,
Pimpinan Komunitas Garasi Genta,
Ketua Harian PD XXVIII KB. FKPPI Maluku Utara.

Minggu, 26 Februari 2017

Dua Cerita Tidore Dari 1920an


Warga Mareku, kampung tua, kampungnya para Sangaji di utara Pulau Tidore itu, marah dan memprotes petugas pajak Belanda yang datang menagih pajak. Mereka menolak membayar pajak yang dikenakan karena besarannya dianggap tidak sesuai.

Sepeda tua. (foto: picssr.com)

Pagi sekitar pukul sepuluh. Beatuursambtenaar Coolhaas, mengayuh sepedanya pelan dari arah Mareku Gam Sung melalui jalan menurun ke tanjung Mareku yang berbatu.
Derit rantai sepeda Batavus atau Bazelle itu juga putaran rodanya sepintas mirip desau lembut angin selusupi daunan Ketapang dan Pandan pantai yang amat lebat di situ. Roda-roda melindas kerikil jalanan seolah seruak ombak mendesis di cecelah batuan pantai.
Sepeda Coolhaas kini di jalan menanjak hampir di tengah kampung Mareku. Tampak rumah-rumah warga rata-rata berdiding kapur, berderet rapi mengikuti topografis kampung yang agak tinggi di kaki Gunung Marijang dan melandai ke arah pantai.
Di tengah kampung, persis di depan rumah Mahimo, Coolhaas turun dari sepeda. Menyandarkan sepedanya ke batang bunga Mentega besar, di dekat pintu pagar pekarangan rumah Mahimo. Tanaman Puring warna-warni, Bunga Tasbih dan Jambu air meneduhi rumah ini. ]
Coolhaas merogoh lenso dari saku biskap, menyapu peluh dari wajahnya. Tengadah sebentar ke langit, seakan mencari posisi matahari. Pagi telah beranjak siang, di hari itu, hari yang tak sempat dicatatnya, juga bulannya, kecuali tahun. Itupun hanya perkiraan: 1921 atau 1922.
Dari arah pantai berjarak kurang 100 meter dari jalan raya dan rumah Mahimo, Coolhaas mendengar suara ramai yang merambat seperti bergelombang bersama kelabat angin yang bertiup dari pantai. Dia memasang telinga. Memastikan apa yang sedang terjadi di sana.
“Permisi tuan. Silahkan masuk”.  Suara Mahimo dari tangga di pintu pagar, mengalihkan perhatian Coolhaas. Mereka lalu melangkah memasuki beranda rumah Mahimo.
Beranda rumah itu, selazimnya rumah-rumah di Tidore, hanya ada dinding di bagian bawahnya, setinggi 1 meteran. Bagian atasnya dibiarkan terbuka. Menghalangi sinar matahari atau air hujan agar tak tempias ke dalam, bagian yang terbuka hanya disekati dengan Kalasa, tikar dari kulit tebu hutan atau kulit pelepah gaba. Di beranda itu, riuh suara dari pantai masih terdengar juga.
“Kenapa ada ribut-ribut di sana”. Tanya si ambtenaar dengan dialeg Melayu yang patah-patah.
“Ooo tuan, itu orang-orang kampung Baku Simore,
“Baku apa? Simole..?” Sela si amtenar.
“Iya Simore, tuan. Orang-orang senang dan gembira. Dong pe anak dan laki baru pulang dari jauh”.
“Oooo..”, si ambtenaar Coolhaas hanya menganggung-angguk.
Di pantai, tiga Giop membongkar muatan. Para pemuda dan pria paroh baya memanggul beras, gula, kopi dan lain-lain dari Giop, menurunkannya di pantai atau langsung ke rumah. Bocah-bocah berkerumun dua tiga kelompok kecil, memerhatikan dan kadang saling membandingkan Doyo, oleh-oleh, mainan dan celana boven. Kaum ibunya pun tak kalah seru, saling membandingkan baju, bahan tekstil, keneper, giwang, hingga alat dapur yang dibawa pulang suami, anak atau saudaranya dari raantau.
“Ekonomi kamu orang di sini bagus ya?”, tanya Coolhaas sembari menyeruput air kelapa muda.
“Iya tuan, orang kampung sini kuat mencari. Dorang mangael sampe di Ambon, Bitung, Manado”. Mahimo menjelaskan ringkas.
“Jadi, itu tadi yang ribut-ribut... orang-orang baru pulang ha?”

Dzuhur telah lewat hampir satu jam. Proses pemungutan pajak segera dimulai. Orang-orang mulai berdatangan ke rumah Mahimo. Pemuka kampung yang membantu tugas-tugas Mahimo sekaligus koordinator pemungutan pajak kampung itu, telah siap dengan felpen dan buku catatan pajak.
Setengah jam berikut, orang berdatangan makin banyak, memenuhi pekarangan Mahimo hingga ke pekarangan dan teras tetangga. Nama-nama kepala keluarga mulai dipanggil satu persatu.
Tiba-tiba sekelompok warga berteriak, memprotes pungatan pajak hari itu. Coolhaas tegang. Berdiri ia dari kursinya dan mengambil posisi sigap. Susana seketika riuh. Warga yang protes meneriakkan “Stop. Barenti. Torang tara akan bayar”
Coolhaas makin tegang. Ini tantangan pertama yang dijumpainya di Tidore. Ini akan menghambat pekerjaannya. Merusak konditenya di mata atasannya.
“Mahimo! Ada apa ini?” Tanya Coolhaas setengah berbisik tetapi dengan nada suara penuh tekanan.
“Tenang tuan,” Kata Mahimo singkat.
Mahimo tampil ke depan, meminta perhatian warganya.
“Ngoni samua coba tenang dulu. Ngoni protes apa sebenarnya?” Tanya Mahimo lantang.
“Tabea Mahimo, torang tara akang bayar pajak, nilainya tara sesuai..”, kata seorang warga, ditimpali pula kalimat serupa oleh warga lainnya.
Coolhaas terkejut bukan main. Gegas ia melengkah lebih kedepan. Mahimo coba menenangkannya, memastikan situasi dapat dikendalikannya, Colhaas menampik tangan Mahimo dan tetap maju kemuka, berteriak.
“Tidak bisa. Tidak bisa. Itu sudah ditetapkan dari atas”. Coolhaas menatap ke arah warga dengan wajah tegang, barangkali juga geram.
“Tuan jangan remehkan torang. Nilai pajak ini tara pas deng kitorang”... Warga berteriak lantang dan sautan-sautan.
Coolhaas lebih tegang lagi. Juga mulai agak marah. Dia berbalik cepat ke arah Mahimo.
“Bagaimana ini tuan?”
“Tenang tuan. Tenang. Biar saya bicara dengan dorang bae-bae”.
Mahiomo mendekati kerumunan warga. Tampak mereka saling bicara dalam bahasa Tidore. Si amtenar Coolhaas menatap cermat dari kejauhan. Tak sampai lima menit. Rembuk Mahimo dengan warganya selesai. Mahimo kembali ke beranda. Cooalhaas gegas menghampirinya.
“Bagaiman tuan? Tanyanya tak sabar.
“Maaf tuan, biar dorang yang jelaskan”. Kata Mahimo bikin Coolhaas keheranan bercampur geram.
Seorang warga melangkah mendekati beranda. Coolhaas tak sabar menunggu apa yang akan dikatakannya. Suasana hening. Lelaki yang mewakili warga pun tampak tegang.
“Eee.. tuan, torang.. e, torang pe pajak ini talalu kacil”. Dia jeda sejenak. Coolhaas memperbaiki posisi duduknya, memperhatikan.
“Tuan musti kase nae dua kali lipat. Itu baru cocok deng kitorang. Kalo tarada torang tara bayar.”. Lelaki itu berbalik gegas, berjalan ke arah kerumunan warga. Coolhas terpana, melongo. Antara lega bercampur heran. Sejurus kemudian ia kembali menguasai dirinya dan berdiri tegap di hadapan warga, tersenyum lebar.
Its goed, mooi.... Kamu orang heibat, heibat...” Coolhaas mangut-manggut, berdecak-decak.
 Pemungutan pajak siang itu pun berjalan lancar. Coolhaas tak habis pikir, biasanya masyarakat terlambat atau enggan membayar pajaknya walau jumlahnya tak seberapa. Tapi di sini, di Mareku, orang-orang justru tak mau membayar pajak bila jumlahnya tidak dinaikkan dua kali lipat. Heran, tak percaya, atau kagum, berputar dalam pikirannya seperti derap kakinya memutar pedal sepeda.
Laju sepedanya kini melamban di jalan menanjak di ujung Kampung Bobo ke arah Kampung Toloa. Bedug Ashar terdengar hampir bersamaan dari masjid di ujung selatan Kampung Bobo dan dari masjid tua di Kampung Toloa. 
Lima menit berikutnya sepeda Coolhaas sudah di tengah Kampung Toloa. Dia berhenti tak jauh dari rumah Mahimo. Rumah itu ramai oleh kerumunan warga. Coolhaas menuntun sepeda dan bertanya kepada beberapa warga di tepi jalan. Rupanya di rumah Mahimo sedang ada penyelesaian sengketa batas kebun.
Coolhaas masuk ke pekarangan. Orang-orang memberi jalan. Melihat Coolhas masuk, Mahimo bangkit menyambutnya. Coolhaas kasih isyarat agar Mahimo tetap melanjutkan sidang perkara. Coolhaas duduk menyaksikan persidangan. Lima menit kemudian putasan jatuh, Si Fulan dinyatanya bersalah. Sidang Bubar. Dilanjutkan dengan proses pemungutan pajak.
Proses pemungutan pajak berlangsung lancar, tanpa protes, interupsi atau inseden apapun. Kurang lebih setengah jam urusan Coolhaas di Toloa beres. Uang pajak di isi kedalam kantong Zak Terigu. Coolhaas kemudian meminta Mahimo, uang pajaknya nanti di antar saja ke kantor atau ke rumahnya. Setelahnya dia bergegas pulang ke Soasio, yang jaraknya cukup jauh, lebih dari 20 kilometer dari Toloa.

**
Angin sore sepanjang pesisir utara dan selatan Tidore bertiup pelan, sepelan kayuhan sepeda Coolhaas.  Hatinya lempang. Ia tak merasa perlu tergesa-gesa sampai Soasio. Sebab jalanan pesisir yang dilaluinya sore itu lebih cerah dan indah. Sesekali ia tersenyum, benar-benar tak percaya dengan kejadian di Mareku beberapa jam lalu.
Sepedanya kini melucur agak kencang menuruni kelokan jalan ke tanjung Tongawai. Matanya melirik-lirik teluk dan tanjung, laut sore yang tenang, satu dua perahu nelayan mengapung di sana. 
Saat menikung di pangkal teluk kecil itu, matanya menangkap sesosok pria parohbaya di tikungan jalan, persis di ujung tanjung. Langkah-langkah Si Pria begitu gegas hingga seketika ia seolah menghilang, terhalangi rindang pohonan dan tebing curam di ujung tanjung.
Coolhaas mengayuh sepedanya lebih cepat. Kini jaraknya tak seberapa jauh dari pria itu. Tampak olehnya pria itu menenteng karung kecil atau kantong. Sepedanya melaju dan membuntuti Si Pria di dekat Lige Ma Ake, danau kecil di dekat Kampung Seli. Mendengar derit sepeda di belakngnya, Si Pria berbalik menengok. Ketika melihat yang datang adalah Coolhaas, si pria berhenti, memberi isyarat hormat.
Kini Coolhaas benar-benar terkejut. Si Pria itu ternyata Si Fulan, terhukum sesuai putasan Mahimo Toloa tadi. Coolhaas lebih terkejut lagi, sebab mengenali kantong yang ditenteng Si Fulan adalah Zak Terigu berisi uang pajak warga Toloa yang tadi dipungutnya.
“Kamu orang mau kemana hah?” Tanya Coolhaas setengah menyelidik.
“Pigi di kantor polisi, mo lapor diri, tuan”. Jawab Si Fulan enteng.
“Lalu itu?” Tanya Coolhaas sambil menunjuk Zag Terigus yang ditenteng Si Fulan”.
“Mahimo suruh saya bawa ke rumah tuan”.....
Coolhaas benar-benar bingung wal heran. Benar-benar tak masuk di akal. Bagaimana mungkin seseorang yang diputuskan bersalah, menyerobot batas kebun, mengambil hasil kebun orang lain, di suruh pergi sendiri ke kantor polisi untuk menjalani hukaman?
Bagaimana bisa seorang terhukum, pelaku kejahatan, diminta membawa uang pajak, hampir setengah Zak Terigu, sendirian, melewati perkampungan lengang, melalui jalananan pesir yang lebih lengang lagi.
Bagaimana seorang sepolos dan selugu Si Fulan mampu melakukan penyerobatan, mengambil hak orang secara melawan hukum, melakukan kejahatan? 
Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk dalam pikiran Coolhaas seperti arus dan riak ombak membantun bibir tanjung.
“Ayo, naik. Kita sama-sama ke Soasio,” Coolhaas mempersilahkan Si Fulan naik ke boncengan
“Tara usa tuan, saya bajalang saja. So dekat”.
“Ayo naik!”. Coolhaas berkata tegas, setengah memerintah.
Si Fulan naik ke boncengan. Coolhaas mengayuh sepeda pelan menajaki jalan di ujung Kampung Seli.
Kini lebih banyak lagi pertanyaan di benaknya, peristiwa di Mareku, lalu Si Fulan. Tanpa terasa sepedanya memasuki tanjung Soasio, melalui kelokan jalan persis di bawah Benteng Tehulla. Kurang 500 meter lagi ia tiba di rumah yang ditempatinya, di Soajawa. Senyumnya melebar.
Sepedanya dikayuh lebih kencang, melewati rumahnya, melewati Soa Jawa. Si Fulan heran, mengapa si amtenar ini tak langsung saja ke rumah tetapi mengayuh sepeda sejauh ini. Si Fulan memendam rasa herannya.
“Kring-kring, kring-kring’.. Coolhaas sengaja membunyikan bel sepedanya begitu masuk ke pekarangan Kantor Polisi. Dua polisi di pos jaga mendongakkan kepala, berpaling ke arah bunyi bel. Coolhaas memarkir sepedanya cepat dan bersama si Fulan menghampiri ke pos jaga.
Coolhaas dan kedua petugas bercakap dalam bahasa Belanda. Sesekali Coolhas menunjuk ke Si Fulan, ke Zak Terigu yang masih di tangan Si Fulan. Petugas mengeluarkan kertas, semacam blanko atau apa. Coolhaas mengambil felpen dari kantong biskapnya, tampak menulis di blanko itu, menekennya. Itu saja. Lalu ia berbalik, memberi isyarat kepada Si Fulan.
Sepeda dikayuh cepat meninggalkan kantor polisi. Sudah sangat sore. Tak ada percakapan sepanjang jarak dari Goto-Tuguwaji ke Soasio. Di hati Coolhaas mungkin masih berkecamuk pertanyaan atau keheranan. Atau barangkali sebuah simpulan: Ini kan menjadi pengalaman pertama sekaligus terakhir selama masa tugasnya di Tidore, mungkin sepanjang usianya, bahkan mungkin sepanjang zaman. Kemungkinan besarnya cerita ini tak akan pernah terjadi kapanpun dan dimanapun juga.
Sepeda berhenti persis di persimpangan yang memotong jalan dari Masjid Sultan ke arah Soa Jawa, dan dari Doro Kolano ke arah situs Kadato Kesultanan. Tempat tinggalnya memang tak jauh dari situ.
“Kamu pulanglah. Bawa ini dan kasih ke Mahimo”. Coolhaas menyodorkan secarik kertas kepada Si Fulan. Si Fulan yang lugu dan tentu saja kebingungan menerimanya. Coolhaas memberi isyarat, segeralah pulang. Sebentar lagi malam. Si Fulan berbalik dan melangkah pulang menyusuri ujung senja yang mulai temaram.
Kini, Coolhas berhenti di ujung tangga depan pintu rumah yang ditempatinya. Di masih tetap di atas sepedanya. Pandangannya sejenak tak geming ke arah Si Fulan melangkah pulang. Langit senja di atas Benteng Tehulla, jingganya telah memudar menjadi merah-hitam. Pandangannya mengitari ujung utara Kampung Soasio. Menyapu seluruh sisinya, seolah hendak menyalin sebanyak mungkin detilnya ke dalam ingatannya; Sigi Kolano, pantai dengan Doro Kolano membujur, rumah-rumah penduduk, orang-orang lalau lalang dan saling menyapa dengan ramah, saling mengangkat Suba.
Jika nanti dia selesai bertugas dan meninggalkan pulau ini, dua cerita ini akan menjadi bagian utama dari catatan dan cerita indah yang akan dibawanya pulang. Sebagaiannya akan ditulis atau diceritakannya dan sebagain lainnya barangkali hanya mampu dihayatinya diam-diam.

***
Lebih 80 tahun berlalu, saya menemukan kedua cerita itu dalam sebuah buku tua yang tipis, "Bestuuren Overzee Herinneringen van Oud - Amdtenaaren Bij Het Binenlands Bestuur In Nederlandch Indie” (Franeker, oleh T. Wever BV, 1977),  
 WP.H. Coolhaas benar-benar menulisnya sebagai cerita penting dan bernilai, yang ditempatkannya berdampingan dengan pengalamannya menjalankan tugas sebagai inspektur pajak, pengamatannya terhadap sejarah, budaya dan lain sebagainya.
Cerita asli Coolhaas sebenarnya ringkas. Sangat ringkas malah.  Saya — dengan agak berani dan barangkali juga lancang — coba mereka-tafsirkannya lalu membangun cerita ini secara dialogis. Sebab bagaimanapun, kedua cerita ini seperti jalan kecil memasuki keluhuran dan kearifan Tidore yang besar.


Sofyan Daud. Oktober 2014