Selasa, 09 Mei 2017

Kaicil Rade, Pangeran Besar Tidore Yang Kurang Dikenal



Kadato Kie. Keraton kesultanan Tidore di Sunyine Salaka (Taman Perak), Kampung Soasio. Foto: Sofyan Daud, 12 April 2017


Kaicil atau Kaicili, sebutan untuk putra Sultan atau pangeran pada kesultanan-kesultanan di Maluku; Tidore, Ternate, Bacan dan Jailolo.
Kaicil Rade, pangeran dari Tidore yang bijaksana dan teguh pendiriannya. Pernah menjadi Kapita Lau (menteri pertahanan, panglima perang) Kesultanan Tidore semasa kepemimpinan Sultan Amiruddin Iskandar Zulkarnnaen, adiknya sendiri.
Saat ayahanda mereka Sultan Al Mansyur mangkat 1526, tiga tahun kemudian, pada 1529, Amiruddin Iskandar Zulkarnaen terpilih dan dinobatkan sebagai sultan menggantikan mendiang ayahandanya.
Saat penobatannya usia Iskandar Zulkarnaen masih remaja sehingga kakaknya Kaicil Rade dipercayakan sebagai Mangkubumi atau Waliraja, mengendalikan kesultanan sampai sultan Iskandar dewasa dan efektif melaksanakan amanah kepemimpinannya.
Sebagai Waliraja, Kapita Lau sekaligus pangeran yang lebih tua, Rade memiliki kekuasaan hampir mutlak atas kesultanan ini. Jika dia menghendaki niscaya mudah baginya mengambil alih tahta, tetapi hal itu tak terlintas sedikitpun di benaknya. Rade merasa cukup dengan amanah yang dipercayakan kepadanya, sebagai Kapita lau dan Waliraja.
Bijaksana, tawadduh dan istiqomah adalah karakter kepribadian Kaicil Rade yang menjadikannya penuh ketahudirian dan kesadardirian. Dia tak merasa rendah mengabdi pada kesultanan yang dipimpin adiknya yang terpaut usia jauh di bawahnya.
Rade menghormati Iskandar Zulkarnaen sebagai sultan dan menghormati amanah kepemimpinan yang dipundaki adiknya, juga menghormati amanah yang dipercayakan padanya. Kedua-duanya ditempatkan sama tinggi dengan rasa hormatnya akan marwah negeri, martabat rakyat, serta martabat dan kehormatan dirinya sendiri.
Kaicil Rade, pribadi mulia dan pemimpin berreputasi tinggi. Sayangnya, lembaran sejarah nasional tak sempat mencatatnya secara pantas. Kalangan sejarawan daerah pun belum banyak yang tertarik meneliti dan menulisnya. Itulah mengapa nama dan kiprahnya jarang diketahui khalayak di Maluku Utara bahkan di Tidore, tanah asal sang kaicil sekalipun.

TRAKTAT SARAGOSA DAN KRISIS MALUKU
Periode kepemimpinan Iskandar Zulkarnaen, 1529-1547 bersama Rade yang setia menyokong dan mendampinginya, dimulai dalam tahun yang sama dengan perjanjian Saragosa 25 April 1529. Perjanjian antara Raja John III dari Portugis  dengan Raja Charles V dari Spanyol yang dimediasi oleh Vatikan untuk meratifikasi perjanjian Tordesillas, 7 Juni 1494. Perjanjian yang tentunya memengaruhi konstalasi global, karena Portugis dan Spanyol saat itu adalah dua negara adidaya.
Pasca perjanjian, Spanyol meninggalkan Tidore dan seluruh wilayah Maluku ke Pilipina dengan kompensasi 350.000 Ducats.
Sepeninggal Spanyol, Portugis yang sejak dekade sebelumnya telah memantapkan posisinya atas Ternate, menjadi semakin kuat. Sebagai satu-satunya kekuatan Eropa di pulau-pulau utama penghasil cengkeh dan pala sekaligus pusat-pusat kesultanan tersohor di Timur Nusantara, Portugis pun kian memantapkan dominasinya melalui pelbagai upaya subordinasi Ternate yang lantas memunculkan pelbagai ketegangan dan konflik.
Kawasan Maluku terdesak memasuki dekade krisis dan konflik akibat intrik dan peperangan yang dialakukan para Gubernur Portugis di Maluku yang berkedudukan di Gamlamo, ibukota Ternate, sejak periode gubernur Antonio De Brito, 1522-1525, Henriquez, 1525-1527, Jorge de Menezes, 1527-1530, Gonzalo Pereira, 1530-1532, Vincente De Fonceca, 1532-1534, dan memuncak pada periode Tristao De Ataide, 1534-1537.
Puncak krisis terjadi saat sultan Ternate, Bayan Sirullah alias Bayanulllah wafat 1522, dalam periode gubernur De Brito. Hidayat (Deyallo) dan Boheyat (Bochiat), dua putra Bayanullah yang masih belia dinobatkan sebagai sultan, berturut-turut Hidayat, 1522-1529 dan Boheyat, 1529-1532.
Dalam kurun ini,  Boki (ratu, permasiuri) Nukila, istri mendiang Bayanullah, yang adalah putri Al Mansyur, saudara kandung Kaicil Rade dan Iskandar Zulkarnaen, dipercayakan sebagai Mangkubumi atau Waliraja, mengendalikan kesultanan Ternate sampai putranya dewasa dan efektif mengemban amanah kepemimpinannya.
Dari 1522 sampai 1537, masa 15 tahun paling kelam dalam sejarah Ternate. Intrik Portugis menembus dinding istana. Kepentingan politik dagang dan misi penyiaran agama yang dianut Portugis bertemu ambisi segelintir elit kesultanan.
Sultan muda Hidayat dan Boheyat mangkat mengenaskan di tangan besi Portugis. Tabariji naik tahta 1532-1535, lalu dia bersama Boki Nukila dan Pattisarangi dipecundangi,  ditangkap dan diasingkan ke Goa, India.
Di lain sisi misi pengabaran injil di wilayah Halmahera, juga tak bebas konflik dan peperangan. Portugis mengeksploitasi misi suci itu untuk menggalang dukungan dan loyalitas komunitas-komunitas di sana yang telah berhasil dikristenkan. Tujuannya mendelegitimasi bahkan melawan kesultanan Ternate. Sikap itu dinilai sebagai kelicikan, sebab Sultan Ternate menghormati dan telah memberi izin misi suci tersebut.
Dari latar dan konstelasi politik regional demikian, Iskandar Zulkarnaen yang belia tampil sebagai sultan di Tidore, satu-satunya kesultanan yang menjadi tumpuan Maluku (Moloku Kie Raha) kurun itu, ketika kesultanan Ternate sebagai salah satu yang terkuat sedang dirudung krisis yang pelik.
Di situlah Waliraja sekaligus Kapita Lau, Kaicil Rade, menunjukkan kualifikasi kepemimpinannya. Dia tak hanya menentukan stabilitas kesultanan Tidore, tetapi juga menentukan eksisitensi seluruh wilayah Maluku, khususnya kelanggengan cita-cita bersama Moloku Kie Raha yang dicetuskan dalam Motir Staten Verbond, 1322.
Sejarah mencatat bagaimana Tidore di bawah kendali Kaicil Rade memberikan perlindungan kepada sultan Boheyat yang dimakzulkan dan kemudian diburu oleh Portugis.
Serangkaian peristiwa besar dan menentukan terjadi dalam periode Sultan Amiruddimn Iskandar Zulkarnaen bersama Kicil Rade sebagai Kapita Lau-nya.

Tampak belakang Kadato Kie, foto dari Benteng. Foto: Sofyan Daud, 10 Januari 2017


GUBERNUR GALVAO DAN KAICIL RADE
Dokumen tertulis tentang Rade yang memang sangat minim, sejauh yang diketahui, bersumber dari catatan Antonio Galvao, Gubernur Portugis Maluku di Ternate, 1537-1540. Catatan-catatan yang kemudian dibukukan dalam “Historia Das Mollucas”.
Dalam catatanya Galvao mengungkap kekagumannya pada Kaicil Rade yang cerdas, bijaksana dan santun. Adnan Amal dalam “Kepulauan rempah-rempah”, sembari merujuk “Historia Das Mollucas”,  menyebutkan, orang-orang Portugis memuji watak dan kepribadian Kaical Rade sebagai “seorang pria berwibawa dan berprilaku paling santun”.
Gubernur Galvao, memang diutus Portugis ke Ternate karena prestasinya. Tugas utamanya memulihkan krisis hubungan Portugis dengan kesultanan Ternate dan kesultanan Maluku lainnya yang telah mengakibatkan anjloknya perdagangan rempah Portugis.
Meskipun begitu, kedatangan Galvao ke Benteng Nuestra Senhora Del Rosario di Gamlamo disambut sikap mawas yang tinggi bahkan kekuatiran, jangan-jangan Galvao berperangai sama dengan gubernur sebelumnya, pemicu kekacauan, peperangan, pengasingan, penabur petaka.
Keempat sultan Maluku pun mengadakan pertemuan di Tidore membahas antisipasi kehadiran Galvao dan kemungkinan buruk ulahnya sebagaimana ulah pendahulunya Ataide.
Memahami situasi itu, Galvao sepertinya menerapkan ujaran, “jika ingin damai mulailah perang”, dia lalu mengkonsolidasi pasukan berkekuatan penuh menyerang  Tidore.
Dalam catatanya, Galvao menyebutkan peperangan 21 Desember 1536 itu meluluhlantahkan beberapa kampung di Tidore. Porugis bahkan berhasil mendarat di Pulau Tidore. Singkat cerita, Sultan Tidore mengirim kurir menyampaikan tawaran perundingan damai. Galvao menerimanya dengan catatan, Sultan harus mengirim seorang pejabat resmi, bukan seorang kurir.
Di suatu pagi cerah antara Desember 1536 atau Januari 1537, Galvao menyeberang dari Ternate ke Tidore bersama beberapa pengawalnya, langsung menuju ke lokasi pertemuan di Seli. Tiba di Seli, Galvao sudah ditunggu oleh Kaicil Rade dan beberapa pengawalnya.
Kepada Rade Galvao mengatakan, agar perundingan mereka lancar dia menawarkan seorang penerjemah, tetapi Kaicil Rade menolak sembari mengatakan dia dapat menggunakan bahasa Galvao dengan baik.
Galvao membuka percakapan basa-basi, bahwa dia tahu Kaicil Rade bijaksana dan beprilaku sangat santun, juga seorang panglima perang yang handal.
“Sir Kaicil Rade. Saya tahu bahwa Anda adalah seorang laki-laki bermartabat tinggi dan terhormat, dan sebagai tambahan bagi kemuliaan derajat Anda, Anda terkenal sebagai yang paling adil dan baik hati di negeri ini. Selama ini Anda menjadi komandan tertinggi melawan Portugis seperti terlihat oleh beragamnya tanda yang Anda kenakan dan oleh keberanian Anda yang luar biasa....”.
Demikian sederet pengakuan dibumbui pujian dari Galvao, sembari menyelipkan misi, layaknya misi kolonial untuk “memecah belah” kekuatan Tidore. Galvao mengatakan, dengan kapasitas dan kredibilitas Kaicil Rade, tak ada yang lebih pantas memimpin kesultanan Tidore kecuali dia dan Galvao atas nama Raja Portugis merestui itu.
Tetapi Kaicil Rade menolak tawaran atau lebih pantas disebut bujukan itu; “Tuan Gubernur, Saya menganggap pujian Anda dan pemerintahan yang Anda janjikan sebagai pujian. Tetapi, bagaimana Anda bisa berharap saya menerima tawaran yang bertolak belakang dengan kewajiban dan kehormatan Saya? Apa kata orang jika mendengar hal ini? Untuk apa saya yang datang untuk membuat kesepakatan antara anda dengan saudara Saya, meminta kepada Anda apa yang menjadi haknya? Dengan cara macam itu saya akan kehilangan semuanya, apa yang saya capai dalam waktu begitu lama, melalui keserakahan sesaat. Akan terkutuklah pemerintahan yang berdasarkan pada hilangnya apa yang telah dicapai dengan segala daya upaya, untuk dunia ini dan dunia mendatang. Saya telah mengikhlaskan diri saya dalam posisi seorang budak bagi saudara kandung saya dan saya tidak akan mengizinkan aib menimpa saya dan keturunan saya”.
Demikian Kaicil Rade dengan kebijaksanaan dan kebesaran jiwanya, teguh dalam pendirian dan istiqomah dalam amanah yang dipercayakan. 
Tidore, Maluku Utara dan Indonesia, barangkali mesti mengambil pelajaran dan inspirasi dari kisah ringkas kebijakasanaan Kaicil Rade ini.
Tidore pun mesti berterima kasih kepada Galvao, sebab berutang kebaikan padanya, yang sudi mencatat kesan dan peristiwa pertemuannya dengan Kaicil Rade. Catatan yang walapun sedikit, dapat menjadi setitik api bagi generasi kini dan nanti.

Sofyan Daud
Garasi Genta, Ternate, 2 Februari 2017.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar